Falsafah Penelitian Kuantitatif

SahabatRiau
0


Oleh : Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si, M.Phil

Pengenalan

Gagasan yang melimpah dan cara pandang yang beragam, itulah suasana yang melingkupi Diklat Penelitian angkatan III Pusdiklat Tenaga Pendidikan dan Keagamaan Kemenag RI tahun 2016 pada kali ini. Dengan tiga puluh peserta dari institusi perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang berbeda dari seluruh wilayah Indonesia, tergambar beragam pemikiran yang melatar belakangi basis keilmuannya masing-masing.


Gagasan baru serta metode penelitian yang beragam diperkenalkan oleh para narasumber yang memang handal dalam bidangnya masing-masing. Berawal dari materi yang dibawakan oleh Prof. Dr. H. M. Atho Mudzhar, membahas tentang Pengembangan Teori dan Kritik Methodologi dalam Penelitian Agama. Sebagai ilmuan senior dalam bidang metodologi penelitian agama, beliau sangat piawai  menyampaikan materinya.

Metodologi penelitian menurut Prof Atho, merupakan integrasi dari teori dan pengukuran realitas. Teori sosial menurutnya tidak ajek seperti pada pengetahuan kealaman. Sehingga beliau tidak terlalu menguatkan pada feodalitas teori yang mendefenisikan adanya grant, midle dan small teori. Menurutnya teori itu dapat saja berubah-rubah akibat dari perkembangan penelitian yang dilakukan dalam bidang kajian tersebut.

Materi berikutnya disajikan oleh Dr. Farida Hanum dari Balai Puslitbang Kehidupan Keberagamaan Kemenag RI. Beliau menyajikan materi tentang teknik pengumpulan dan analisis data. Secara detil beliau menjelaskan bagaimana langkah-langkah penelitian kuantitatif serta teknik analisisnya. Dia menekankan sebuah kajian kuantitatif itu "mahalnya" ada pada analisis dari pembacaan akngka-angka kuantitatif yang dihasilkan dari prangkat analisisnya. Selain itu penelitian kuantitatif harus benar-benar memperhatikan bagaimana istrumen penelitian itu di rumuskan.

Sesi kuantitatif selanjutnya disambung oleh narasumber  Dr Molyamin. Beliau sangat terpesona dengan metode kuantitatif, sehingga hampir sebahagian besar penelitiannya mengunakan metode tersebut. Beliau mencontohkan tema kajiannya tentang nikah beda agama serta isu-isu tentang radikalisme. Beliau memang spesial sekali pada tema tersebut. Sehingga, gagasan-gagasan libralnya meluncur bagaikan beselancar di atas gelombang dahsyat paradigma keilmuan yang beragam. Namun tidak sedikit dari peserta yang renyah dengan hidangan akademik ilmuan ini. Tapi ada juga  peserta yang resah dan bahkan menyanggah.

Tulisan ini coba untuk mendiskusikan secara mendalam konsep dan gagasan tentang dasar teori dalam penelitian sebagaimana disampaikan oleh Prof Atho, serta konsep penelitian kuantitatif sebagaimana yang dijelaskan oleh Dr. Farida Hanum dan   Dr Molyamin. Tulisan ini lebih bersifat filosofis (falsafah). Mendiskripsikan secara mendasar metode penelitian kuantitatif dari perspektif makna, bentuk serta proses-proses yang terjadi didalamnya sehingga mampu terintegrasi dengan kebutuhan pengetahuan untuk berreproduksi sebagai satu bagian dari epistimologi pengetahuan sains.

 

Falsafah Penelitian Kuantitatif

Meneliti merupakan aktifitas akademik yang disiplin. Keteraturan dalam prosedur penelitian sangat diutamakan dan itulah yang selalu diistilahkan dengan metodologi. Memahami metodologi menjadi suatu keharusan karena pengetahuan akademik bersifat disiplin sehingga muncul istilah disiplin ilmu. Pada dasarnya pengetahuan adalah semua yang diketahui. Artinya, semua orang memiliki pengetahuan. Petani yang bekerja di kebun atau sawah, meskipun tidak pernah duduk di bangku sekolah pasti punya pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki oleh para petani itu biasanya tidak bersifat teratur atau disiplin. Semenatara pengetahuan yang diperoleh melalui proses pembelajaran bersifat metodologis dan teratur.

Akibat dari keteraturannya, pengetahuan dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok pengetahuan yakni : filsafat, sains dan mistik. Ketiga kelompok pengetahuan ini dapat dibedakan berdasarkan kepada segala sesuatu yang melingkupi (ontologi), sistem-sistem yang bekerja serta cara pengetahuan tersebut berreproduksi (epistimologi), serta segala nilai kemanfaatan pengetahuan itu (aksiologi). Ontologi pengetahuan selalu berkaitan dengan konsepsi-konsepsi teoritis yang melingkupi pengetahuan itu. Sementara epistimologi memainkan peran dalam mereproduksi pengetahuan sehingga melahirkan khazanah keilmuan. Sementara aksiologi menyoal kemanfaat serta seperangkat nilai yang disandangkan pada pengetahuan tersebut.

Secara ontologi, pengetahuan filsafat menjadikan akal sebagai objeknya. Sementara sains berkutat pada relitas dan pengetahuan mistik selalu berada pada ruang rasa dan jiwa. Epistimologi filsafat terhenti hanya pada aspek logis sehingga bahasa dan logika merupakan istrumen pendukungnya. Epistimologi sains memprasyaratkan rasionalitas dan kenyataan empiris, sehingga dalam koteks itu sains berkerja pada ruang logico hypothetico verificative. Berbeda dengan sains, epistimologi mistik memerlukan latihan ruhani (riadah).

Penelitian kuantitatif merupakan bagian dari epistimologi sains, baik yang bersifat kealaman maupun sosial dan humaniora. Penelitian ini selalu dibedakan dengan penelitian kualitatif. Secara sederhana kuantitatif adalah penelitian dengan angka-angka sementara kualitatif lebih pada pemaparan argumentasi bahasa. Membedakan keduanya secara detil memang agak menyulitkan. Karena angka harus dijelaskan oleh argumentasi bahasa, sementara argumentasi bahasa akan lebih terukur bila dibuktikan oleh seperangkat simbol angka tertentu melalui proses pengukurannya.

Baik angka maupun kata sesungguhnya adalah instrument bahasa. Karena kata adalah bahasa yang verbal dan angka adalah bahasa simbolik, sehingga kedua pendekatan itu sesungguhnya  harus dapat memberikan informasi dan penjelasan. Kenyataan bahwa pendekatan-pendekatan dalam penelitian harus dapat memberikan penjelasan merupakan hakikat dari pengetahuan itu sendiri. Bawa fungsi pengetahuan itu adalah menjelaskan (eksplanasi), meramalkan (ekspektasi) dan pengendalian pencegahan (preventive controls).

Kebali kepenelitian kuantitatif, sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahawa penelitian ini mengikuti kaidah logico hypothetico verificative. Artinya sebuah penelitian kuantitatif harus berawal dari proses logico, atau penalaran logis. Yakni cara berfikir yang tersusun dan memenuhi logika silogisme atau bersifat duduksi. Dalam konteks penalaran logis itu, maka akan dikenal istilah teori, dalil, postulat, konsep, konstruk, definisi oprasional dan sebagainya. Ketika semua prangkat penalaran logis telah tersedia, penelitian kuantitatif akan bergerak menuju perumusan hipotesis (hypothetico). Hipotesis harus dapat terumuskan dengan baik karena hopotesis merupakan pintu gerbang yang menjembatani diantara ruang rasional dan empiris. Hipotesis yang baik adalah hipotesis yang terjawab pada kenyataan dan mampu mengkonstruksi gagasan baru atau teori baru.

Ruang dalam proses kuantitatif berikutnya adalah verificative. Kemampuan dalam menferifikasi relitas dengan kekuatan empirisme yang positifis harus dilakukan pada proses ini. Berawal dari instrument, pengambilan data, analisis yang akhirnya bermuara pada pengujian hipotesis dan pembuatan kesimpulan disajikan pada bagian ini. Proses verificative adalah proses yang mempertemukan teori pada fakta di lapangan. Kuantitatif menghendaki pada proses ini, teori-teori tersebut sudah terkonstruksikan dalam model-model tertentu serta dapat diterjemahkan dalam instrument yang terukur.

Pada penelitian kuantitatif, kebutuhan untuk mendefinisikan variable-variabel penelitian muncul jauh sebelum instrument pengukuran ditetapkan. Dan ketika insturem penelitian sudah digunakan maka penelitian sesungguhnya sudah menemukan data penelitian. Proses terakhir dalam penelitian kuantitatif sebelum menuliskan kesimpulan adalah analisis data. Analisis data lebih merupakan pekerjaan statistik. Analisis data akan sangat bergantung kepada berapa banyak variable yang digunakan. Selain variable, analisis data juga sangat ditentukan oleh jenis data yang diperoleh dari penelitian. Berikut ini akan dijelaskan secara filosofis sekilas konsep tentang variabel dan data.

 

Tentang Variabel

Wujudnya variable dalam penelitian kuantitatif sangat dipentingkan. Secara sederhana variable adalah sesuatu yang memiliki keragaman atau variatif. Jika ianya menunjukan tepat pada satu objek  yang tidak bersifat variatif maka hal itu tidak dapat dikatakan sebagai variable. Sebagai contoh “badan”, tidak dapat dijadikan variable. Namun “berat badan” atau “suhu badan” adalah varibel. Variabel dalam penelitian kuantitatif ada yang bersifat  univariate, bevariat dan multivariat.

Univariate adalah varibel tunggal. Sehingga penelitian kuantitatif pada univariate variable selalunya bersifat diskripsi terutama pada data cross section. Namun pada data time series, analisis variable univariate bisa saja disajikan dalam model analisis regresi time series, bahkan dapat juga digunakan untuk melakukan metode peramalan (forecasting). Model ini selalu digunakan untuk melihat trend masa depan dari sebuah data, seperti curah hujan, produksi pertanian, pertumbuhan penduk dan sebagainya.

Variabel Bivariat dan multivariate, biasanya digunakan untuk penelitian yang coba menjawab masalah perbedaan antar dua variable (komparasi) atau hubungan antar variable (korelasi). Bahkan selanjutnya dapat dikembangkan bentuk hubungannya (regresi), jalur hubungannya (path) maupun struktur dan jaurnya hubungan varibel-varibel tersebut (Structural Equation Modeling).

Kepahaman mengenai variable sangat diperlukan dalam penelitian kunatitatif. Setiap variable harus dapat terjelaskan oleh teori-teori tertentu. Artinya pada penelitian ini sudah ada seperangkat teori yang digunakan sebagai frem yang membatasi penelitian, serta memungkinkan penelitian dapat terukur dengan tepat. Variabel dalam penelitian social selalu memiliki keluasan dalam konsep. Variabel yang langsung mengukur selalu disebut variable terukur sedangkan variable yang masih bersifat konseptual selalu disebut variable laten. Sehingga dalam konteks variable laten peneliti perlu menemukan dimensi dan indicator dari sebuah variable berdasarkan teori yang menjelaskan variable tersebut.

 

Tentang Data

Ketika mendefiniskan bahwa variable adalah sesuatu yang bervariasi, maka entitas dari masing-masing variatif itu adalah data. Data merupakan sekumpulan fakta dan informasi terukur yang digunakan untuk mengkonstruksi sebuah argumentasi. Bentuk argumentasi yang lahir dari seperangkat data akan sangat tergantung pada model analisis yang digunakan. Pada penelitian kuantitatif, analisis data bersifat positifis dengan mengunakan model matematika statistik, baik diskriptif maupun infrensial statistik.

Penelitian kuantitatif harus dapat memaskikan bahwa data terukur dengan tepat. Ketepatan dalam pengukuran data selalu mengunakan istilah validitas dan reliabilitas instrument pengukuran. Validitas adalah tentang ketepatan sementara reliabilitas menyangkut konsistensi. Jadi data dalam penelitian kuantitatif merupakan sebuah nilai yang diperoleh dari pengukuran diamana alat ukurnya telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas.

Selain tepat dalam pengukuran, yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah bagaimana data diperoleh. Ketika semua data pada populasi penelitian adalah data yang digunakan untuk dianalisis, maka penelitian ini disebut dengan sesus. Tapi jika hanya sebahagian saja data pada populasi yang digunakan untuk dianalisis, maka disebut penelitian survei, atau mengunakan sampel. Bagaimana sampel diambil dari ruang sampel adalah permasalahan statistik. Ilmu statitik memberikan teori khusus tetang teknik penarikan sampel. Terdapat berbagai model penarikan sampel. Secara umum terbagi dua saja yakni sampel probabilitas dan non probabilitas. Sampel probabilitas bersifat generalisasi dalam kesimpulan sementara sampel non probabilitas bersifat  kesimpulan yang terbatas.

Dari segi sifatnya, data dapat di kategorikan dalam empat bagian. Yakni, data nominal, ordinal, interval dan ratio. Nominal adalah data yang hanya bersifat membedakan. Ordinal adalah data yang selain membedakan juga menunjuk kepada pringkat. Data interval adalah data yang membedakan, memiliki pringkat dan jarak namun tidak memiliki nilai nol mutlak. Sementara itu, data ratio selain memiliki sifat ketiga jenis data sebelumnya, juga memiliki perbandingan sehingga memiliki nol mutlak.

 

Kesimpulan

Secara filosofis peneitian kuantitatif adalah penelitian yang terukur secara positifis karena prinsip penelitian ini adalah logico hypothetico verificative. Dengan demikian penelitian ini bekerja pada ruang rasional dan empiris yang dijembatani oleh hipotesis. Proses rasionalitas harus dapat tergambar dari teori yang digunakan sebagai frem penelitian. Sementara proses empiris tersusun dalam instrument pengukuran, data yang dihasilkan serta analisis yang digunakan.

Tulisan ini hanya memberikan dukungan filosofis kepada peneliti dalam penelitian kuantitatif. Sehingga untuk mengunakan pendekatan kuantitatif, seorang peneliti harus memiliki pemahaman yang rigit tetang bagaimana langkah-langkah dan prosedur penelitian kuantitatif. Untuk itu teknis peneitian kuantitatif harus dipelajari. Namun sebagai sebuah pendekatan, kuantitatif bukanlah satu-satunya pendekatan dalam penelitian terdapat banyak pendekatan lainnya yang diguankan. Begitu pulah halnya, bahwa pendekatan kuantitatif tidak dapat dibandingakan baik tidaknya dengan pendekatan yang lain. Karena setiap pendekatan memiliki cara tersendiri dan bekerja pada ruangnya masing-masing.  

 

(Tulisan diangkat dari Buku: Nusantra Meneliti Diklat Kemeng RI tahun 2016)

Biografi

D. H. M. Rizal Akbar, SSi, M.Phil, Doktor Ekonomi Islam ini, lahir di Sungai Alam, Bengkalis 12 September 1974, selain sebagai Ketua Yayasan Tafaqquh Fiddin, beliau  juga adalah dosen tetap di Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai. Ia juga dosen luar biasa di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Kampus Riau pada mata kuliah Teori Pembangunan. Sebelumnya beliau adalah Sekretaris Eksekutif Tim Pertimbangan Kajian Kebijakan Gubernur Riau (TPK2-GUBRI) (2003-2008) dan Anggota DPRD Riau (2004-2009).

Berbekalkan Ijazah sarjana S1 Matematika FMIPA Unri 1998 , dia melanjutkan S2 di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dengan menyandang gelar Master Of Philosophy (M.Phil) dan program Doktor  diselesaikannya di Islamic Economic & Finance (IEF) Universitas Trisakti Jakarta, dengan lulus comlaude.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)